Isinya –
Sayangku, terima kasih untuk semuanya – untuk semua usaha yang dilakukan sepenuh hati dengan segala keikhlasan, bahkan berat sekalipun, walaupun ada yang menggunakannya untuk memanfaatkan dan balik menyerangmu. Untuk semua jerih lelahmu menyiapkan hasil karya terbaik yang kamu bisa hampir setiap pagi, dengan banyaknya luka goresan di jari dan aliran peluh dari panasnya api yang membara. Untuk kerelaanmu menerobos kemacetan ibu kota seorang diri sehabis rangkaian rapat yang melelahkan jiwa dan raga walaupun akhirnya ceritamu hanya bisa disimpan di hati. Untuk waktu yang sudah diluangkan baik pagi, siang, sore, ataupun malam hari di tempat pertama kita bertemu walau sekarang ini hanya berteman hentakan lagu di telinga disaat pikiranmu terlalu ribut untuk mengingat sudah hitungan ke berapa. Untuk malam-malam panjang menanti kabar dan pesan sayang yang selalu ditunggu agar lelap tidurmu. Untuk doa tulus yang tak putus didengungkan agar terang jalannya di tempat yang baru. Untuk tetap warasnya akalmu walau dengan tangan gemetar membaca pesan yang meruntuhkan duniamu subuh kala itu. Untuk segenap kemampuan yang dikerahkan mengendalikan yaya walau panas dingin badanmu dan suara yang tiba-tiba menghilang ditelan bumi seakan pertanda agar tetap menjaga ucapanmu sampai sore itu tiba, di meja yang sama tempat kita biasa bercerita dan membangun mimpi. Untuk betapa besarnya hatimu memaafkan semuanya bahkan sebelum diminta. Untuk kedewasaan pikiranmu, mengalahkan ego dan mengesampingkan kehancuran harga dirimu demi kesempatan berbicara sebagai manusia dewasa. Untuk kesediaanmu duduk berdiam dalam hening tanpa tindakan membabibuta agar bisa mencerna semuanya dan pada akhirnya ikhlas menerima tanpa sedikitpun memberikan celah bagi dendam untuk berkuasa.
Percayalah tak ada yang akan kembali dengan sia-sia – sekali lagi, terima kasih untuk semuanya, sayangku.

Leave a comment